Malam ini aku bertugas di meja 14. Meja yang banyak dipilih orang-orang karena bisa memandang langsung ke simpang susun Semanggi. Berpandangan langsung dengan Wisma GKBI yang menyala dalam kerlip lampu, dan berseberangan dengan Hotel Sultan. Aku tidak sendirian. Banyak teman-temanku yang bertugas dalam jarak pandang yang sama. Hanya kami berlainan meja. Sebenarnya, seluruh lokasi ini juga bisa mendapat arah pandang yang sama. Hanya aku, dan teman-temanku yang bertugas di tepian sering menjadi favorit karena pengunjungnya bisa langsung berdiri berpegangan pagar pengaman.
Lalu aku melihat mereka berdua. Mereka menghampiriku walau disekitarku masih banyak piring kotor. Biarlah, mungkin mereka sudah menunggu lama. Tempatku bekerja ini memang sangat ramai didatangi orang-orang sepulang kerja. Lokasi yang strategis dan tempat yang menyenangkan. Walaupun angin tidak bisa dikatakan semilir, namun udara dapat dibilang segar,dibandingkan restoran lain yang terlingkupi tenda.
“Misbar nih,” kata si pria sewaktu mereka baru duduk.
Aku memperhatikan si wanita, tipikal wanita Indonesia. Berbadan mungil, rambut berombak, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Dalam remang, kulihat sorot matanya yang berbinar-binar. Pasti dia akan banyak bicara, pikirku. Ia berbaju hitam, bertas dan bersepatu hitam. Entah apa alasannya. Mungkin solidaritas terhadap apa yang sedang dialami bangsa ini.
Lalu si pria, yang berwajah sendu. Postur tingginya menjulang dibandingkan wanita di depannya. Air mukanya sulit terbaca. Entah ia senang, atau susah, sepertinya tak ada bedanya. Mungkin bisa di ketahui lewat kata-kata yang meluncur dari mulutnya.
“Duh, sebenarnya badan gue lagi nggak enak nih,” keluh si pria sambil membaca daftar menu. Si wanita tersenyum,“Aaah, elo, biasa deh, kalau mau ketemu gue pasti lo sakit,” ledeknya. Dibalas dengan senyuman hambar.
Hei, siapa kedua orang ini? Mereka terlihat bersama, namun tidak akrab. Oh, mungkin mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama. Ada rasa canggung yang kulihat. Atau mereka ini rekan bisnis, atau rekan sehobi? Kupikir semua orang datang ke tempat yang dibilang romantis ini adalah pasangan. Ah, aku ge-er. Banyak gerombolan pertemanan yang memenuhi meja-meja di sana sini. Suasana akrab yang ingin dicapai di atap mall yang menghadap persimpangan tersibuk di Jakarta ini.
“Nah, sekarang gue mo nanya nih,” seru si pria.”Tau nggak apa yang ada di pikiran gue waktu pertama liat tempat ini?”
Si wanita memasang tampang bingung,” Maksud lo apa? Yah, gue gak bisa baca pikiran lo, lah..”
“Tempat ini, semuanya, suasananya..”
Aku ikut bingung. Raut muka datarnya memang tidak menjelaskan apa-apa. Sementara itu si wanita menanggapi dengan senyum-senyum kecil dan raut wajah tak mengerti.
“What’s wrong with this place? Gue gak tau lah, lo punya pikiran apa?”
“This place, this candle light.., it’s about a..”
-baca seluruhnya yang lebih seru->












