Setiap hari kata itu yang didengungkan pada sore hari.
“bu, saya pulang dulu yaa..”
“gw cabut dulu ya.. siyyaaa”
“duluan ya, Paak”
Dan berlalulah orang-orang itu keluar dari kantor menuju rumah.
Beberapa dari mereka, sepertiku pulang ke rumahnya. Pulang ke tempat orang-orang yang mencintai mereka menunggu.
Yang ketika setiap hari sampai rumah akan ada yang menyambut, menanyakan sudah makan belum? oleh orangtuanya
Atau yang digelendoti anaknya, yang memeluk bahkan sejak pintu pagar hingga masuk rumah.
Atau yang hanya ketemu ayahnya, yang tidak bertanya apa-apa.
Beberapa dari mereka, pulang ke tempat tinggal sementara.
Sementara hanya didiami di malam hari saja, sejak pukul 8 hingga 8 pagi.
Tidak ada yang menyambut, hanya ada “hoi, dah balik lo?”
Atau hanya senyuman tetangga kamar..
Atau timpalan tawa teman sekamar..
Bahagia, karena bertemu dengan kekasih, anak atau tetangga ibu kost.
Atau biasa-biasa aja, menjalankan rutinitas lanjutan, masuk, istirahat, tidur (karena sebelum sampai sudah makan)
Apakah kamu benar-benar pulang?
Kata anak kost, ke kost tidak pulang, hanya numpang tidur sementara melewatkan malam.
Tidak ada tamu, tidak ada teman bercanda, hanya teman-teman kost saling menyapa mengucap salam
Selanjutnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Nonton TV, jika ada, nonton film downloadan, main game, baca buku, membunuh kesendirian.
Sama seperti tinggal di hotel, bedanya hanya ini dibayar bulanan atau tahunan.
Ada beberapa yang lain, yang menemukan tempat kost dengan penuh kekeluargaan, yang ditimpali dengan sapa sebelum masuk. Yang mengajak sarapan bersama, berangkat ke kantor bersama, mengobrol bertukar kisah tentang hari itu dan hari-hari lain.
Lalu kalau pulang ke rumah??
Yang setiap hari pulang ke rumah rasanya tidak jauh beda. Apalagi belantara Jakarta ini menghabiskan energi di perjalanan. Hanya pulang, sampai rumah, makan, tidur. Semakin lama anda tidak jumpa orang serumah, semakin jauh hati dengan mereka. Tak ada percakapan makan malam, karena hanya sendiri, ditemani pembantu yang menonton TV. Pulang setiap hari, untuk makan, tidur, baca, maen, dan berkomunikasi selama 12 jam sebelum akhirnya berangkat lagi ke kantor.
Pulang yang membahagiakan?
Buat aku, bahagia kalau pulang dan ada yang menyambut di rumah. Senyum manis dan tawa harap yang tersungging di wajah penghuninya. Seperti kalau pulang ke rumahku disambut oleh tawa malaikat kecilku. Diajak main dan membaca bersama. Dipameri hasil gambarnya hari ini di dinding.
Seperti pulang ke rumah ibuku dan disambut senyum bahagia beliau.
Saat itu aku merasa, pulang. Pulang ke hati mereka, pulang ke tempat yang mengharapkanku.
Ketika sampai dan berdialog, “Hari ini ngapain aja??” bercerita dengan ibu, ayah, dan adikku.
Dan masuklah kami dalam diskusi yang ramai..
Pulang yang sebenar-benarnya ke rumah pada hari Jum’at. Karena dua hari berikutnya kita bisa melakukan berbagai hal ajaib di atas.
Bisa merawat taman, jika punya. Bisa menata ulang ruangan, membereskan koleksi buku, merapikan lemari,
menonton DVD, main masak-masakan, membacakan cerita, terima arisan, masak makanan favorit, janjian kumpul-kumpul sama saudara, adu maen game, membetulkan genteng yang pecah, menguras bak, berenang di kolam tiup, main gelembung sabun. Membaca buku, melukis, menyanyi karaoke, membereskan gudang, mengutak-atik kendaraan pribadi. Mengkliping, membaca lowongan kerja, terbahak-bahak atas kisah komedi, mengemil kue-kue di toples.
Itu pulang yang bahagia, dimana kita istirahat dan melepaskan hiruk pikuk kota, lepas dari atribut resmi.
Pulang dimana bertemu dengan orang-orang yang mencintai. Pasangan hidup, kekasih hati, anak, orang tua, saudara..
Atau siapapun yang kamu cintai menyambut, membuat kamu merasa ringan, mengingat masa kecil ketika dalam buaian.
(jakarta, sesudah mudik 2009)