catatan kaki

mind, think, and my foot works. GO EXPLORER !!!

when we lost us February 6, 2010

Filed under: CurHat — indrijuwono @ 2:09 pm
Tags:

Ketika seorang kawan pernah bertanya,”Apakah yang lebih sepi daripada sepi?”
Maka aku akan jawab, kesepian di tengah keramaian. Ketika kau pikir kau dapat segalanya, namun semuanya bukan milikmu. Sepi di tengah keramaian membuatmu lebih hampa daripada sendiri di tepi pantai karang dengan gemuruh deburan ombak.

Pernahkah kau merasa tidak merasa apa-apa?
Seperti merasa lebih sepi daripada sepi?
Ketika kehilangan sesuatu yang hampa, sesuatu yang nggak pernah ada.

Ini bodoh bukan?
Buat apa menyesali sesuatu yang nihil, sesuatu yang tiada. Bahwa kekosongan itu nggak bisa dibagi, atau justru banyak hasilnya?
Ingat satu dibagi nol sama dengan takhingga.
Atau memang sesuatu itu baru berharga sesudah kehilangan? Ungkapan klise.

If only there is a sky, I would scream aloud.
If only there is a lake I would drowned by.
If only there is a forest I would hide to.
What’s the nothing of neverwhere?

Ada berhadap-hadapan, saling bicara akan tanpa ada rasa
tanpa beban untuk bercanda, usai rasa kosong hadir menghampa.
bagaimana bisa emosi bicara tanpa rasa?

Atau emosi itu ada, namun hal yang biasa?
Sebenarnya tidak pernah tahu akan menjawab apa, apakah hidup dalam kepura-puraan, bertopeng dalam gelimang rasa.
Berpikir bahwa segalanya sempurna. Segalanya benar. Adakah lebih benar untuk tak ada rasa daripada perasaan terluka?



 

cinta dan rasional, tidaklah mudah.. December 6, 2009

Filed under: CurHat — indrijuwono @ 11:02 am
Tags: ,

Selama ini aku selalu berkata dengan nada datar, bahwa cinta haruslah rasional. Orang tidak bisa hanya bermodal cinta untuk hidup, tapi banyak hal-hal lain yang harus dipertimbangkan.

Hanya dalam buku, Burung-burung Manyar, aku berkata,
Teto tumbuh menjadi salah satu dari itu. Anak kolong itu, yang hidupnya terombang-ambing antara perang dan cinta, yang tidak tahu harus memilih yang mana di masa mudanya, tenggelam dalam hal-hal rasionalitasnya. Namun nasib memang bergulir sebagaimana digariskan. Hidup tidak bisa dihitung, ditebak, selalu ada tanpa batas untuk nasib. Seperti satu dibagi nol.

Tapi ketika dipaksa untuk melihat kenyataan bahwa cinta harus kalah, rasanya memang dada ini terasa sesak, tidak bisa terima dan begitu sedih, walaupun bukan diri yang mengalaminya.
Cinta tumbuh perlahan-lahan, dari hati hingga membekas dalam diri.
Rasio timbul karena pengalaman, karena belajar, karena pengetahuan dan pola hidup.

Dan ketika saatnya kau memilih? Cinta yang tumbuh atau rasional karena pengalaman?
Bagaimana jika mencintainya adalah kesalahan?
Ketika hari yang menjadi simbol ‘and they live happily ever after‘ mendadak hilang, bukan karena kesalahan cinta, namun kesalahan rasional, dan cinta jadi korbannya.

Cinta yang menjadi korban saat ini, tidak dapat disalahkan dan dikaitkan. Mungkin kamu tidak bisa lagi mempertahankan atas nama cinta, ini bukan sinetron, ini kenyataan. Tapi kebesaran hatilah yang harus dimainkan saat ini.
Cinta itu indah dan pernah ada, mungkin sekarang masih ada. Saat harus diikhlaskan, dan melepaskan hari-hari indah di depan mata, yang mendadak menjadi kepingan puzzle yang tidak akan terangkai kembali, kumpulkan dan simpan. Waktu tidak bisa diputar balik.

Mungkin ini juga nasihat usang, bahwa kau harus bersabar, tapi kau juga yang tahu, karena aku juga tak tahu kalau ada di posisi dirimu. Mungkin ini hanyalah kata-kata bahwa saat ini cinta harus mengalah, dan berbesar hati dan ikhlas menghadapinya. Tidak bisa semuanya menang, kemenangan akan datang pada waktunya, and you will happily ever after… .

Dear my cousin, semoga ini bisa membesarkan hatimu.. We love you, and wish your happiness.

depok, 06 des 09
di tengah keheningan, aku bicara cinta.

 

kaki langit purnama November 23, 2009

Filed under: Cerita — indrijuwono @ 10:27 pm
Tags:

Malam ini aku bertugas di meja 14. Meja yang banyak dipilih orang-orang karena bisa memandang langsung ke simpang susun Semanggi. Berpandangan langsung dengan Wisma GKBI yang menyala dalam kerlip lampu, dan berseberangan dengan Hotel Sultan. Aku tidak sendirian. Banyak teman-temanku yang bertugas dalam jarak pandang yang sama. Hanya kami berlainan meja. Sebenarnya, seluruh lokasi ini juga bisa mendapat arah pandang yang sama. Hanya aku, dan teman-temanku yang bertugas di tepian sering menjadi favorit karena pengunjungnya bisa langsung berdiri berpegangan pagar pengaman.

Lalu aku melihat mereka berdua. Mereka menghampiriku walau disekitarku masih banyak piring kotor. Biarlah, mungkin mereka sudah menunggu lama. Tempatku bekerja ini memang sangat ramai didatangi orang-orang sepulang kerja. Lokasi yang strategis dan tempat yang menyenangkan. Walaupun angin tidak bisa dikatakan semilir, namun udara dapat dibilang segar,dibandingkan restoran lain yang terlingkupi tenda.
“Misbar nih,” kata si pria sewaktu mereka baru duduk.

Aku memperhatikan si wanita, tipikal wanita Indonesia. Berbadan mungil, rambut berombak, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Dalam remang, kulihat sorot matanya yang berbinar-binar. Pasti dia akan banyak bicara, pikirku. Ia berbaju hitam, bertas dan bersepatu hitam. Entah apa alasannya. Mungkin solidaritas terhadap apa yang sedang dialami bangsa ini.
Lalu si pria, yang berwajah sendu. Postur tingginya menjulang dibandingkan wanita di depannya. Air mukanya sulit terbaca. Entah ia senang, atau susah, sepertinya tak ada bedanya. Mungkin bisa di ketahui lewat kata-kata yang meluncur dari mulutnya.

“Duh, sebenarnya badan gue lagi nggak enak nih,” keluh si pria sambil membaca daftar menu. Si wanita tersenyum,“Aaah, elo, biasa deh, kalau mau ketemu gue pasti lo sakit,” ledeknya. Dibalas dengan senyuman hambar.

Hei, siapa kedua orang ini? Mereka terlihat bersama, namun tidak akrab. Oh, mungkin mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama. Ada rasa canggung yang kulihat. Atau mereka ini rekan bisnis, atau rekan sehobi? Kupikir semua orang datang ke tempat yang dibilang romantis ini adalah pasangan. Ah, aku ge-er. Banyak gerombolan pertemanan yang memenuhi meja-meja di sana sini. Suasana akrab yang ingin dicapai di atap mall yang menghadap persimpangan tersibuk di Jakarta ini.

“Nah, sekarang gue mo nanya nih,” seru si pria.”Tau nggak apa yang ada di pikiran gue waktu pertama liat tempat ini?”
Si wanita memasang tampang bingung,” Maksud lo apa? Yah, gue gak bisa baca pikiran lo, lah..”
“Tempat ini, semuanya, suasananya..”

Aku ikut bingung. Raut muka datarnya memang tidak menjelaskan apa-apa. Sementara itu si wanita menanggapi dengan senyum-senyum kecil dan raut wajah tak mengerti.

“What’s wrong with this place? Gue gak tau lah, lo punya pikiran apa?”
“This place, this candle light.., it’s about a..”

-baca seluruhnya yang lebih seru->

 

doa seorang ayah October 21, 2009

Filed under: Puisiku — indrijuwono @ 5:31 am

Tuhanku,

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat

Untuk menyadari manakala ia lemah, dan berani

Menghadapi dirinya manakala ia takut

Yang bangga dan tidak tunduk dalam kekalahan

Tulus serta rendah hati, dan penyantun dalam kemenangan

Tuhanku,

Bentuklah dirinya menjadi manusia yang tahu

Akan adanya Engkau, dan mengenal kehadiranMu

Sebagai dasar segala pengetahuan.

Bimbinglah dia bukan di jalan yang lunak dan mudah

Tetapi di jalan yang penuh desakan, tantangan dan kesulitan

Ajarilah dia, agar sanggup berdiri teguh menghadapi badai

Dan belajar mengasihi mereka yang gagal

Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhati suci

dengan cita-cita menggapai langit. Menjadi manusia

yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum

berhasrat memimpin orang lain. Manusia yang meraih kegemilangan

hari depan, tanpa melupakan masa lampau

Sesudah semuanya itu membentuk dirinya,

Aku mohon ya Tuhan,

Rahmatilah ia dengan rasa humor, agar ia dapat bersungguh-

Sungguh, tanpa menganggap dirinya terlalu serius

Beriah dia kerendahan hati, kesederhanaan dari keagungan

Hakiki, keterbukaan fikiran dan sumber kearifan

Serta kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya.

Semuanya ini ya Tuhan, berasal dari keagunganMu

Jika semuanya itu sudah menjadi miliknya, maka

aku akan berani berkata:

”Tak sia-sia aku hidup sebagai ayahnya.”

DOUGLAS Mc ARTHUR
selalu dibacakan untuk Pelantikan KAPA… my favorite poems, ever

 

tiga tahun untuk bintang October 21, 2009

Filed under: Cerita — indrijuwono @ 5:27 am

Dear sayang,
Kamu pasti tidak ingat masa bunda pertama kali memeluk kamu, dalam isak bahagia di tengah malam, ketika bintang bersinar di angkasa, secerah cahaya mungilmu membuatku larut dalam haru.
Kamu adalah bidadari yang membangunkan bunda di malam hari, hanya karena lapar atau ingin bermain. Membuat bunda jadi wanita, yang rela untuk meninggalkan keseharian hanya untuk kamu.
Langkah demi langkah bunda lihat kamu, dari merangkak, berdiri, berjalan, berlari, hingga kini naik sepeda roda tiga pun kamu bisa. Bunda ingat pernah marah sama kamu, dan buat kamu menangis, dan bunda menangis juga karena bunda menyesal sudah memarahi kamu. Bunda minta maaf, kamu juga.

Dear sayang,
Tiga tahun ini begitu banyak yang kita lewati bersama. Ingat waktu kita naik kereta berdua untuk pertama kalinya, ingat waktu kita pergi berenang berdua, ingat waktu pertama kali kamu masuk sekolah, ingat waktu akhirnya kamu bisa duduk tenang di samping bunda kalau bepergian bawa mobil.
Bunda nggak akan lupa senyuman kamu, antusias kamu, pelukan kamu, semua tatap mata bahagia dari mata indahmu, canda dan tawa yang tak pernah absen dari raut wajahmu.
Di kala bunda menangis sedih di kamar, cuma kamu yang datang dan tersenyum dengan tanya dalam hati ‘bunda kenapa?’, lalu kamu akan memeluk bunda dan membuat bunda sejenak melupakan sedih karena memiliki bidadari mungil dengan hati emas belum tahu akan dosa.
Kamu yang dengan tabah dan tidak cengeng setiap hari melambaikan tangan kepada bunda yang pergi bekerja, diiringi dengan peluk cium yang membuat bunda enggan melepaskanmu.
Kamu juga yang melepas lelah bunda sepulang kerja, dengan pelukanmu yang hangat dan teriakanmu yang nyaring, membuat bunda lupa akan lapar dan dahaga karena ingin segera membacakan cerita untuk kamu.

Dear sayang,
Setiap pagi bunda membuka mata ada kamu yang bunda lihat, begitu juga sebelum tidur. Bunda tahu ini takkan selamanya, suatu saat bunda harus melepas kamu. Tapi biarlah tahun-tahun awal ini jadi milik bunda.
Terimakasih Bintang, terimakasih untuk waktu berharga yang telah kita jalani bersama, terimakasih telah menjadikan bunda wanita super, seorang wanita yang bisa melakukan apa saja keinginan kamu. Menjadikan bunda bantalan pelukan, menjadikan bunda obat di kala sakit, menjadikan bunda guru, teman, dan sahabat. Tidak akan bunda biarkan orang lain menyakitimu. Kamu adalah anugerah paling berharga yang bunda punya.

Tuhanku,
Bimbinglah dia bukan di jalan yang lunak dan mudah
Tetapi di jalan yang penuh desakan, tantangan dan kesulitan
Ajarilah dia, agar sanggup berdiri teguh menghadapi badai
Dan belajar mengasihi mereka yang gagal *)

21Oktober2006-2009 ,by BundaBintang

* Puisi by Douglas McArthur (Doa Seorang Ayah)

 

membekukan waktu October 17, 2009

Filed under: Puisiku — indrijuwono @ 5:42 am

waktu melambat….
saat detak jantungmu menyatu dengan dada kananku
dan degup dadaku beradu di atas liver kananmu
pepohonan di sekeliling kita bergoyang ringan dalam irama bossanova

semakin lambat….
ketika kurentangkan tanganku di atas tebing
dan kau lingkarkan peluk di pinggang
sambil berbisik lirih di telinga
“tuhan, bolehkah waktu berhenti di saat ini agar kita bisa selamanya?”

waktu membeku.
kita duduk berhadapan di sebuah meja batu
tak ada kata, hanya pandang bertanya-tanya
meraih tanganku, dan menggenggam seketika
waktu berhenti.
aku mengembang dalam senyum
semua di sekeliling kita membeku
hanya kita yang tatap dalam cinta
dan detak jantung yang gemuruh


(indy, jakarta selatan, 15okt09)

 

Pulang October 9, 2009

Filed under: Cerita — indrijuwono @ 9:46 pm
Tags: , ,

Setiap hari kata itu yang didengungkan pada sore hari.

“bu, saya pulang dulu yaa..”
“gw cabut dulu ya.. siyyaaa”
“duluan ya, Paak”

Dan berlalulah orang-orang itu keluar dari kantor menuju rumah.
Beberapa dari mereka, sepertiku pulang ke rumahnya. Pulang ke tempat orang-orang yang mencintai mereka menunggu.
Yang ketika setiap hari sampai rumah akan ada yang menyambut, menanyakan sudah makan belum? oleh orangtuanya
Atau yang digelendoti anaknya, yang memeluk bahkan sejak pintu pagar hingga masuk rumah.
Atau yang hanya ketemu ayahnya, yang tidak bertanya apa-apa.

Beberapa dari mereka, pulang ke tempat tinggal sementara.
Sementara hanya didiami di malam hari saja, sejak pukul 8 hingga 8 pagi.
Tidak ada yang menyambut, hanya ada “hoi, dah balik lo?”
Atau hanya senyuman tetangga kamar..
Atau timpalan tawa teman sekamar..
Bahagia, karena bertemu dengan kekasih, anak atau tetangga ibu kost.
Atau biasa-biasa aja, menjalankan rutinitas lanjutan, masuk, istirahat, tidur (karena sebelum sampai sudah makan)

Apakah kamu benar-benar pulang?
Kata anak kost, ke kost tidak pulang, hanya numpang tidur sementara melewatkan malam.
Tidak ada tamu, tidak ada teman bercanda, hanya teman-teman kost saling menyapa mengucap salam
Selanjutnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Nonton TV, jika ada, nonton film downloadan, main game, baca buku, membunuh kesendirian.
Sama seperti tinggal di hotel, bedanya hanya ini dibayar bulanan atau tahunan.

Ada beberapa yang lain, yang menemukan tempat kost dengan penuh kekeluargaan, yang ditimpali dengan sapa sebelum masuk. Yang mengajak sarapan bersama, berangkat ke kantor bersama, mengobrol bertukar kisah tentang hari itu dan hari-hari lain.

Lalu kalau pulang ke rumah??
Yang setiap hari pulang ke rumah rasanya tidak jauh beda. Apalagi belantara Jakarta ini menghabiskan energi di perjalanan. Hanya pulang, sampai rumah, makan, tidur. Semakin lama anda tidak jumpa orang serumah, semakin jauh hati dengan mereka. Tak ada percakapan makan malam, karena hanya sendiri, ditemani pembantu yang menonton TV. Pulang setiap hari, untuk makan, tidur, baca, maen, dan berkomunikasi selama 12 jam sebelum akhirnya berangkat lagi ke kantor.

Pulang yang membahagiakan?
Buat aku, bahagia kalau pulang dan ada yang menyambut di rumah. Senyum manis dan tawa harap yang tersungging di wajah penghuninya. Seperti kalau pulang ke rumahku disambut oleh tawa malaikat kecilku. Diajak main dan membaca bersama. Dipameri hasil gambarnya hari ini di dinding.

Seperti pulang ke rumah ibuku dan disambut senyum bahagia beliau.
Saat itu aku merasa, pulang. Pulang ke hati mereka, pulang ke tempat yang mengharapkanku.
Ketika sampai dan berdialog, “Hari ini ngapain aja??” bercerita dengan ibu, ayah, dan adikku.
Dan masuklah kami dalam diskusi yang ramai..

Pulang yang sebenar-benarnya ke rumah pada hari Jum’at. Karena dua hari berikutnya kita bisa melakukan berbagai hal ajaib di atas.
Bisa merawat taman, jika punya. Bisa menata ulang ruangan, membereskan koleksi buku, merapikan lemari,
menonton DVD, main masak-masakan, membacakan cerita, terima arisan, masak makanan favorit, janjian kumpul-kumpul sama saudara, adu maen game, membetulkan genteng yang pecah, menguras bak, berenang di kolam tiup, main gelembung sabun. Membaca buku, melukis, menyanyi karaoke, membereskan gudang, mengutak-atik kendaraan pribadi. Mengkliping, membaca lowongan kerja, terbahak-bahak atas kisah komedi, mengemil kue-kue di toples.

Itu pulang yang bahagia, dimana kita istirahat dan melepaskan hiruk pikuk kota, lepas dari atribut resmi.
Pulang dimana bertemu dengan orang-orang yang mencintai. Pasangan hidup, kekasih hati, anak, orang tua, saudara..
Atau siapapun yang kamu cintai menyambut, membuat kamu merasa ringan, mengingat masa kecil ketika dalam buaian.


(jakarta, sesudah mudik 2009)

 

Aku Membaca, maka Aku Ada September 5, 2009

Filed under: My Books Read — indrijuwono @ 12:44 am

Curi-curi dgn buku yang dibaca selama ini aja yah..

1. Describe yourself
Pippi Longstocking- Astrid Lindgren
cewek dengan keceriaan berlebihan…

2. How do you feel
Biola tak berdawai – Seno Gumira Ajidarma
misteri wanita, karakter yang sulit ditebak..

3. Describe where you currently live
Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer
Hidupku dimana-mana..

4. If you could go anywhere, where would you go
The naked traveller -trinity
going everywhere…

5. Your favorite pastime
Anne of Green Gables – LM Montgomery
aku dulu gadis kecil yang sok tahu…

6. Your favorite form of transportation
The Subtle Knife – Phillip Pullman
Dunia tidak hanya disini..

7. Your best friend is
Shopaholic And Sister – Sophie Kinsella
best friend are fight sometimes..

8. You and your friends are
Bilangan Fu – Ayu Utami
kebanyakan temen cowok nihh…

9. What’s the weather like
Petir – Dee
Sparkling, beautiful, and attacking..

10. You fear
Kembar keempat – Sekar Ayu Asmara
it’s hard to falling in love to wrong person..

11. What is the best advice you have to give
Clockwork – Phillip Pullman
Hargailah waktu..

12. Thought for the day
A very yuppy wedding – Ika Natassa
hmmm…

13. How would I like to die
Einstein’s dreams – Alan Lightman
a lot of things to die..

14. My soul’s present condition
The Solitaire Mystery – Jostein Gaarder
i’m solitaire and mysterious..

15. The most precious thing in your life
Sophie’s World – Jostein Gaarder
pikiran, pengetahuan dan perasaan, menjadikan aku memiliki dunia…

DONE!

those books that i read.....

those books that i read.....

ra

 

Baduy Dalam, mengembalikan energi positif dalam diri August 29, 2009

Filed under: JalanJalan — indrijuwono @ 12:11 am
Tags: , ,
Jejak Kaki to Baduy

Lari dari Jakarta

Perjalanan ke Kanekes, Baduy Dalam bulan lalu adalah salah satu perjalanan impianku sejak remaja. Padahal sewaktu kuliah juga tidak kunjung ada yang mengajak ke sana,  padahal aku sudah hampir keliling Jawa Barat.

Kesan pertama perjalanan ini adalah, persahabatan, teman baru. Karena aku ikut sendiri dengan tim Jejak Kaki yang sama sekali nggak ada yang kukenal, tapi ternyata karena semua punya sifat dasar yang sama, yaitu gokil, dan juga banyak teman senasib, maksudnya solitaire dan baru kenal disitu, jadilah perjalanan ini seru-seru saja.

Kanekes ditempuh dengan bis selama 5 jam perjalanan, ke arah Serang, lalu masuk ke arah pedalaman Banten, yang jalannya rusak parah, sehingga badan pegal di jalan, hingga sampai di Ciboleger jam 2 pagi. Dimana disitu sinyal Telkomsel hilang sama sekali hanya sinyal Indosat yang tampak plangnya sangat besar di depan Tugu Selamat datang.

Menginap sejenak di satu rumah kosong dimana kita menghampar rame-rame, dengan udara dingin yang cukup menusuk dari jam 2 pagi sampai jam 6 (nyesel juga nggak bawa sleeping bag). Bangun pagi ada MCK umum yang kita ngantri bergantian sambil ngobrol di muka KMnya, airnya agak butek tapi ya entah lah, gelap ini.

Sesudah acara makan pagi dan foto-foto, kita mulai menanjak untuk menuju tanah ulayat Baduy. Untung dalam perjalanan ini tas2 dibawakan oleh porter jadi aku bisa lenggang dengan air minum dan bekal seadanya, sambil jalan yang tak lupa banyak berfoto. Gak heran, anak-anak Jejak Kaki yang katanya doyan jalan ini luar biasa narsisnya, sampai kayaknya tiap tikungan difoto.

Tak berapa lama jalan kita ketemu dengan perkampungan Baduy Luar, desa Kaduketuk. Rumah khas Baduy tampak disini adalah rumah panggung yang berdinding anyaman bambu. Sebenarnya rumah bentuk ini adalah khas masyarakat pedesaan di kaki gunung di kawasan Jawa Barat, jadi tidak dimonopoli suku Baduy saja. Rumah berdinding gedek ini menahan angin cukup kuat, sehingga kalau malam udara di dalam terasa hangat. Coba bandingkan kalau anda bertandang ke kaki gunung dan memilih menginap di rumah berdinding batu, niscaya anda akan kedinginan.

Rumah Baduy Luar

Rumah Baduy Luar

Keluar dari desa ini kita memilih jalan yang sebelah kiri, yang berarti kita akan melewati dandang ageng, atau danau besar. Pemandangan melintasi hutan dengan tanaman yang tinggi-tinggi, punggungan bukit, perkebunan jagung, dilalui dengan riang gembira. Memang kalau perjalanan seperti ini harus dibawa senang, kalau tidak, pasti akan sebel sendiri. Mengingat aku sudah lama tidak jalan kaki jauh, (terakhir tahun 2001 ke Curug Cibeureum kalau gak salah), maka aku mengambil posisi safe, di tengah-tengah, jalan barengan sama guide kita dari WABI. Perjalanan melintasi punggungan ini banyak candanya, seperti ada yang jakan duluan tapi kecapekan, akhirnya kesusul sama yang di belakang.. Kalau pemandangannya, jangan tanya.. Subhanallah, indah sekali kalau kamu lihat dari cekungan-cekungan, bukaan-bukaan antar kanopi pohon. .Bukit-bukit hijau berarak si kejauhan, dan cuaca sangat cerah sekali sampai-sampai mukaku merah karena kepanasan.
-baca seluruhnya yang lebih seru->

 

Identitas August 18, 2009

Filed under: Urbana — indrijuwono @ 1:25 am

Beberapa minggu lalu saya berdebat dengan seseorang yang menuliskan kata Endonesa, bukannya Indonesia, untuk menyebutkan bangsa tempat ia berdiam ini. Kebetulan perdebatan ini berlangsung di diskusi online dalam komentar buku teman dalam satu klub buku online yang kita ikuti bertiga.

Prinsip banget buat saya, karena saya merasa Indonesia adalah nama, identitas bagi negara ini. Bukannya saya sok nasionalis, tapi memang nyatanya saya cinta sama negeri saya ini, Indonesia, dimana saya dilahirkan, dimana saya banggakan akan kekayaan alamnya, dan pemandangan alamnya yang luar biasa indah, yang membuai saya untuk menjelajahinya dari ujung hingga ke ujung, walaupun saya baru berhasil di pulau Jawa saja.

Indonesia adalah identitas saya di mata dunia, alamat kepulangan dalam paspor saya. Laut, Pulau dan kekayaan negerinya tak hanya dikecilkan oleh satu pengucapan menjadi pemaknaan yang berbeda. Perbincangan tak ada habisnya, dalam tulisan maupun ucapan, tidak hanya Endonesa dalam pengucapan (seperti dikatakan oleh teman saya ini).

Dan Indonesia yang saya kenal disini adalah Indonesia yang saya tahu sejak saya lahir, karena saya belum pernah meninggalkan negeri ini. Belum pernah dengar orang bilang Aindonesy, Eindonesya..

Oh.. Eindonesya is on Bali ya??

Di tengah carut marutnya saya cinta negeri ini. Dan saya tidak suka jika namanya diganti.

Bukan karena saya lulusan Universitas Indonesia

Dan bekerja di Indo Swissatama

Yang kliennya Indofood

Produsen Indomie Terbesar di Indonesia

(bayangkan jika semua In itu diganti En)

Dan walaupun diluar berjabat tangan, entahlah, yang prinsip tetap prinsip. Masih banyak hal lain yang bisa dibicarakan. Bukannya saya menyerah, tapi saya tidak suka debat kusir. Buang-buang energi. Entah dia. Saya tetap lebih suka Indonesia.

Depok, 1 Agustus 2009

menyambut HUT RI